Kecantikan ternyata tidak hanya untuk dikagumi, tapi juga bisa diperdebatkan. Dove meluncurkan Campaign for Real Beauty sebagai tempat berdebat. Program yang juga berlangsung di berbagai belahan dunia ini mengajak untuk memilih tentang hakikat kecantikan dan bermaksud mendobrak strereotipe lama tentang kecantikan.
Di Indonesia, kampanye yang juga disisipi strategi viral marketing ini menggunakan detikcom sebagai online media placement selama 1 bulan masa penayangan.
Sebagai penghasil produk kosmetik dan toiletris, cara yang digunakan Dove cukup cerdik karena mereka menggunakan model “wanita biasa” dalam situsnya. Kampanye ini pun seolah ingin meyakinkan para wanita bahwa cantik tidak harus langsing, tidak harus berambut panjang. Dengan strategi ini tentu akan membuka lebar pintu bagi wanita yang merasa dirinya ‘biasa’ menjadi lebih percaya diri dengan menggunakan produk Dove.
Sayangnya, dalam webtorial kampanye ini masih ada kekurangan. Ketika membuka halaman demi halaman, kita masih bisa mengabaikan isian/pilihan yang diberikan. Akan lebih bagus jika pada saat tampil pilihan tersebut, kita ‘dipaksa’ untuk memilih dan berpendapat, sehingga jika kita belum melakukan pilihan tidak akan bisa ke halaman selanjutnya (result).
Juga cukup mengganggu adalah belum terisinya “Angket Kecantikan” dan “Bagilah Kecantikan Anda” yang masih dalam status “akan diluncurkan”. Kita jadi kekurangan referensi dan informasi mengenai hakikat kecantikan, juga informasi tentang produk Dove yang hanya menggunakan link ke international site di sudut kiri bawah webtorial ini.
Atau ini memang strategi Dove yang akan dilanjutkan di campaign lainnya? Kita tunggu kecantikan berikutnya!



