Jurnalis = Kuli Tinta, Kuli Disket, Kuli Handphone?
Jurnalisme warga —kegiatan jurnalistik yang melibatkan warga biasa sebagai pewarta— semakin berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan alat dan media komunikasi. Saat ini perkembangannya bukan hanya ditentukan oleh alat yang digunakan, namun juga keterlibatan audiens yang berkembang tidak hanya menjadi obyek berita, tapi juga berperan sebagai subyek.
Kuli tinta adalah sebutan bagi jurnalis di jaman sebelum komputer digunakan. Lalu sebutan itu terkikis seiring banyaknya jurnalis yang menggunakan word processor dan komputer. Maka timbullah sebutan kuli disket, merujuk pada media penyimpan data berita yang akan mereka publikasikan. Sekarang banyak kalangan jurnalis yang tidak menggunakan lagi disket, melainkan storage device yang lebih mungil seperti USB flashdisk.
Dan kini sebutan jurnalis sudah melangkah jauh dengan genre baru, Cell Journalist.

Jurnalisme selular? Wartawan yang membawa telepon selular? Bukankah sudah jamak hal itu terjadi?
Cell Journalist memang memanfaatkan handphone sebagai media pewarta. Namun konsepnya tidak sekadar itu. Warga dilibatkan aktif dalam proses pembuatan berita. Jadi jika Anda sedang bepergian dan menyaksikan suatu kejadian —apapun kejadiannya— Anda bisa mengirimkan berita, foto maupun video melalui handphone Anda atau melalui email. Jerih payah Anda akan dihargai $ 50 setiap foto atau video hasil bidikan Anda digunakan.
Siapa pengguna berita, foto dan hasil bidikan video Anda? Itulah yang akan dihimpun oleh Cell Journalist. Mereka akan mendistribusikannya ke outlet-outlet media yang tersebar. Saat ini diklaim telah siap lebih dari 200.000 media outlet.
Cerahkan masa depan model bisnis informasi ini? “Anggota Cell Journalist berkembang sangat pesat. Kami gembira menyambut setiap anggota baru dari seluruh dunia,” papar Parker Polidor, President of Cell Journalist. Seolah mengisyaratkan optimisme dia akan masa depan jurnalisme telepon selular.
Selamat tinggal kuli disket, apalagi kuli tinta!



