Bagaimana ya, strategi komunikasi untuk hal-hal yang sensitif dan spesifik? Terutama untuk target audiens seperti masyarakat Indonesia yang masih tabu pada satu sisi namun sangat permisif di sisi lain? Tidak mudah memang. Dan Bayer Health Care sepertinya terjebak dalam situasi seperti itu ketika meluncurkan apa yang mereka sebut Api Cinta.

Dalam publikasi online ini, Bayer ingin menginformasilkan obat untuk (utamanya) disfungsi ereksi. Tidak mudah memang melakukan itu, namun juga tidak mungkin untuk bertindak lebih cerdas tanpa terkesan tabu, apalagi norak.

Bayer dalam publikasi ini menampilkan Advice Column (yang isinya hanya form untuk dikirim ke dr. Naek L. Tobing, tanpa ada kesempatan pengakses untuk mengetahui problem-problem lain yang sudah pernah ditanyakan), Articles (yang isinya hanya gambar sepasang “bule” berciuman, tanpa ada artikel sama sekali), Relationship Tips (yang terdapat tulisan “10 Cara Paling Top untuk Pulih dari Putus Cinta” —adakah hubungan antara putus cinta dengan masalah seks?), Sex Tips (yang diambil dari sumber lain dan bukan dari pakar kesehatan/seksualitas dari Bayer), Forum (lagi-lagi hanya berisi form!).

Isi lain dari website yang didukung dengan publikasi di media online dan media cetak ini adalah mengenai Competition (maksudnya sih kompetisi pasangan paling romantis, tapi ilustrasinya adalah pasangan berpelukan, jadi kesannya “making love” competition) dan Amazing Sex Facts (no comment!).

Masih dalam website ini, ditampilkan pula komik Levi & Vitra. Dari komik inilah kemudian diketahui bahwa “Api Cinta” yang dimaksud di sini adalah Levitra. Lalu, mengapa meski disembunyikan menjadi “api cinta”?

Media Internet sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi dengan memberikan akses terbatas kepada target audiens yang akan dituju. Misalnya hanya pengakses yang benar-benar dewasalah yang bisa masuk ke area tertentu di website ini untuk mengakses informasi-informasi yang sensitif. Sehingga dengan demikian tidak perlu lagi malu-malu untuk menginformasikan sesuatu yang memang sudah menjadi pesan utama untuk target audiens-nya.

Dengan akses terbatas itu —tentunya dengan mekanisme membership access— komunikasi dengan target audiens yang utama pun bisa lebih intensif dan terarah.

Akhirnya, online publishing ini terjebak antara sebagai sarana community building dengan website yang bermisi menginformasikan produk. Tanggung. Malu-malu.